
DM – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT. Tanjungpinang Makmur Bersama (TMB) terancam ditutup, lantaran terus merugi. Selain itu, Direktur Utama (Dirut) dan Direktur di Perusahaan itu juga telah mengundurkan diri.
Walikota Tanjungpinang, Rahma mengatakan pengunduran diri Fahami sebagai Dirut dan Irwandi sebagai Direktur, disampaikan secara lisan saat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pada Jum’at (18/11/2022) kemarin.
“Saya sebagai pemegang saham, telah menerima dan menyetujui pengunduran diri ini. Tentu kami akan mulai tahapannya, dan memastikan apakah akan dilanjutkan lagi atau ditutup saja,” ujar Rahma, Rabu (23/11/2022).
Rahma menyampaikan, bahwa dia telah memberikan kesempatan kepada Fahmi dan Irwandi untuk memperbaiki kondisi PT TMB tersebut. Sebagai pemegang saham, Rahma akan menentukan sikap yang bijak.
Bahkan kata dia, PT. TMB sudah banyak melakukan RUPS bersama Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang. Namun, kesempatan yang diberikan untuk menjadikan BUMD lebih baik tidak terlaksanakan
“Tidak terlaksanakan, terus lambat laporan perusahaan, hutang piutang tidak tertagih. Walaupun ditagih, tidak sesuai dengan harapan. Bahkan, hutang piutang justru meningkat,” ungkapnya.
Pada rapat RUPS terakhir, sambung Rahma Fahmi dan Irwandi mempresentasikan rencana PT TMB di Tahun 2023.
Dalam hal ini, Fahmi menyampaikan membutuhkan biaya operasional senilai Rp 300 juta. Namun, potensi pendapatan perusahaan tersebut ditahun depan hanya mencapai Rp 200 juta saja.
“Berarti akan rugi lagi dong. Jadi kenapa saya harus lanjutkan sesuatu, kalau ceritanya rugi terus, semangat profitnya dimana,” tegas Rahma.
Rahma menerangkan, semua perusahaan dapat berdiri dengan kokoh jika ada profit atau keuntungan. Sementara PT. TMB terus merugi tiga tahun belakangan ini.
“Kalau tidak ada untung dan dilanjutkan, saya yang tidak bertanggung jawab. Jadi saya pikir, kita harus buka mata dan faktanya memang BUMD sedang bangkrut,” terangnya.
Berdasarkan laporan BUMD (hasil audit BUMD) kepada Rahma, di Tahun 2020 mengalami kerugian senilai Rp 1,8 Miliar, dan 2021 mengalami kerugian senilai Rp 2,3 Miliar. Menurut Rahma, kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
“Itu baru tahun 2020 dan 2021, sudah 4 Miliar lebih, belum tahun (2022) ini, selain itu saya juga sempat menanyakan sisa keseluruhan saldo mereka (BUMD) yang hanya tinggal 34 Juta,” herannya.
Penulis: Mael
Editor: Redaksi



















Discussion about this post